
Lupakan semua isu miring dan keraguan yang sempat beredar! Di saat genderang perang MotoGP Mandalika 2025 siap ditabuh, Pulau Lombok justru membuktikan pesonanya yang tak terbantahkan. Kabar tentang sepinya penonton yang sempat berhembus kencang kini sirna tanpa jejak, digantikan oleh realita yang membanggakan: hotel-hotel di Lombok, khususnya di kawasan strategis Lombok Tengah, laris manis diserbu para pencinta balap dari berbagai penjuru.
Pemandangan ini adalah sebuah tamparan telak bagi para pesimis. Alih-alih sepi, atmosfer di Lombok justru terasa begitu hidup dan berdenyut. Ini adalah bukti nyata bahwa antusiasme terhadap salah satu seri balap motor paling bergengsi di dunia ini tidak pernah padam. Lebih dari itu, ini adalah kemenangan bagi pariwisata dan ekonomi lokal yang kembali menggeliat kencang berkat raungan mesin-mesin prototipe.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang selalu haus akan pengalaman dan event-event kelas dunia, fenomena ini adalah sebuah kabar gembira. Ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang hebat dan Mandalika tetap menjadi magnet yang sangat kuat.
Data di lapangan berbicara lebih keras daripada sekadar rumor. Menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), tingkat okupansi atau keterisian kamar hotel di kawasan Lombok Tengah telah mencapai angka fantastis, berkisar antara 90 hingga 100 persen!
Ini bukan angka main-main. Bahkan, sejumlah hotel-hotel besar yang berada di ring satu dekat sirkuit dilaporkan sudah fully booked alias penuh total sejak sebulan sebelum balapan digelar. Kenaikan pemesanan yang signifikan ini sudah mulai terasa sejak awal pekan, di mana para penonton dari luar Nusa Tenggara Barat (NTB), baik dari Jakarta, Surabaya, maupun kota-kota besar lainnya, mulai berdatangan.
“Isu sepi penonton itu tidak benar sama sekali. Kenyataannya, hotel-hotel kami penuh. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat dari luar daerah untuk datang langsung ke Mandalika sangat tinggi,” ujar salah seorang manajer hotel di kawasan Kuta Mandalika. Fenomena ini membuktikan bahwa pesona menonton langsung aksi para pembalap idola di sirkuit kelas dunia masih jauh lebih kuat daripada sekadar menonton dari layar kaca.
Penuhnya hotel-hotel ini tentu saja menciptakan sebuah efek domino yang sangat positif bagi perekonomian lokal. Ini bukan hanya tentang keuntungan bagi para pengusaha hotel besar. Denyut ekonomi ini merambat ke semua lini.
Para pelaku UMKM di sekitar area sirkuit dan pusat-pusat wisata ikut tersenyum lebar. Warung-warung makan, kafe, penjual suvenir khas Lombok, hingga penyedia jasa transportasi lokal—semuanya kebanjiran rezeki. Para pemuda setempat yang kreatif membuka jasa sewa motor atau menjadi pemandu wisata dadakan juga ikut merasakan manisnya gelaran internasional ini.
Inilah wajah sejati dari sport tourism. Sebuah event olahraga tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi yang menghidupi ribuan keluarga. Ini adalah perwujudan nyata dari semangat “Lokal Berdaya” yang selalu kita dambakan.
Sobat Beranjak, ramainya MotoGP Mandalika 2025 ini memberikan kita sebuah pelajaran berharga. Di era digital di mana informasi (dan disinformasi) menyebar secepat kilat, kita harus menjadi generasi yang lebih kritis dan tidak mudah menelan mentah-mentah setiap isu negatif yang beredar.
Kenyataan di lapangan telah membuktikan bahwa semangat dan antusiasme publik jauh lebih besar daripada narasi pesimis yang coba dibangun. Keberhasilan Mandalika dalam menarik ribuan penonton adalah kemenangan kita bersama. Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu dan layak menjadi tuan rumah bagi event-event berskala global.
Kini, saatnya kita menikmati pesta. Nikmati setiap raungan mesin, setiap aksi salip-menyalip di tikungan, dan setiap momen kebersamaan yang tercipta di Mandalika. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah tuan rumah yang ramah, antusias, dan selalu siap untuk perhelatan akbar selanjutnya. Mari kita Beranjak untuk terus mendukung dan bangga pada setiap pencapaian hebat di negeri kita sendiri!









