
Ada sebuah kabar duka yang datang dari ujung timur Pulau Madura, sebuah kisah tragis yang merenggut dua nyawa mungil dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga serta kita semua. Dua orang balita, Azam (3) dan Rafa (3), yang merupakan saudara sepupu, ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya asyik bermain di pinggir Pantai Dusun Cen-lecen, Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (4/10/2025) sore ini adalah sebuah pengingat yang sangat keras tentang betapa rapuhnya kehidupan dan betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak-anak, terutama saat berada di dekat alam yang tak bisa diprediksi seperti laut. Canda tawa riang mereka di bibir pantai, dalam sekejap mata, berubah menjadi tangis pilu yang memecah keheningan senja.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang banyak di antaranya adalah orang tua muda atau calon orang tua, kisah ini bukan sekadar berita duka. Ini adalah sebuah pelajaran pahit yang harus kita resapi bersama agar tragedi serupa tidak pernah terulang kembali.
Semua berawal dari sebuah sore yang tampak biasa. Menurut Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, kedua balita malang itu awalnya bermain dengan riang di halaman rumah nenek mereka. Tak lama kemudian, mereka beranjak ke bibir pantai yang letaknya memang tak jauh dari rumah. Sang nenek, yang saat itu tengah sibuk memasak di dapur, tidak menyadari bahwa kedua cucunya telah bermain terlalu jauh.
Kepanikan mulai terjadi sekitar pukul 16.30 WIB ketika sang nenek tidak lagi mendengar suara kedua cucunya. Ia segera mencari di sekitar rumah, namun tak menemukan mereka. Kecurigaan terburuknya pun muncul: mereka mungkin bermain di pantai. Bersama anggota keluarga yang lain, ia bergegas menyisir area pantai.
Apa yang mereka temukan selanjutnya adalah sebuah pemandangan yang menghancurkan hati. Azam ditemukan pertama kali dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri di atas bebatuan pemecah ombak. Tak lama kemudian, Rafa juga ditemukan tak jauh dari lokasi, mengapung di air laut. Keduanya sempat dilarikan ke puskesmas terdekat, namun takdir berkata lain. Nyawa mereka sudah tidak tertolong.
Pihak keluarga, dalam duka yang mendalam, telah menerima peristiwa ini sebagai sebuah musibah dan takdir. Mereka menolak untuk dilakukan otopsi dan telah memakamkan kedua jenazah balita tersebut. Tidak ada tuntutan hukum, yang ada hanyalah rasa kehilangan yang tak terhingga.
Namun, di luar rasa duka, insiden ini secara tak langsung membuka kembali diskusi penting tentang pengawasan anak. Di banyak daerah pesisir, pantai adalah “halaman belakang” bagi anak-anak. Mereka tumbuh besar dengan laut sebagai teman bermainnya. Namun, keakraban ini kadang kala justru melahirkan kelengahan. Orang tua atau wali mungkin merasa situasi aman-aman saja karena sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Tragedi di Sumenep ini adalah bukti tragis bahwa hanya butuh beberapa menit kelalaian untuk sebuah keceriaan berubah menjadi bencana. Ini bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan, tetapi ini adalah momen bagi kita semua—bukan hanya bagi mereka yang tinggal di dekat pantai—untuk merefleksikan kembali tingkat kewaspadaan kita.
Sobat Beranjak, mari kita jadikan kisah pilu Azam dan Rafa sebagai pengingat abadi. Saat membawa anak-anak bermain, terutama di tempat-tempat yang memiliki risiko seperti pantai, kolam renang, atau bahkan taman yang ramai, jangan pernah lepaskan pandangan kita dari mereka. Jangan biarkan distraksi gawai atau obrolan dengan teman membuat kita lengah.
Keamanan dan keselamatan anak adalah tanggung jawab mutlak kita sebagai orang dewasa. Tragedi ini mengajarkan kita bahwa cinta saja tidak cukup; ia harus disertai dengan kewaspadaan yang tanpa henti.
Mari kita panjatkan doa terbaik untuk Azam dan Rafa, semoga mereka beristirahat dalam damai di sisi-Nya. Dan untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi cobaan ini. Semoga duka mereka menjadi pelajaran berharga yang bisa menyelamatkan nyawa anak-anak lainnya di kemudian hari.









