
Ada momen-momen tertentu yang membuat kita merinding bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Minggu pagi, 5 Oktober 2025, adalah salah satu momen itu. Lapangan Silang Monas, jantung ibu kota, berubah menjadi lautan manusia dan panggung spektakuler bagi perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dan ini bukanlah perayaan biasa. Ini adalah sebuah deklarasi kekuatan, kebersamaan, dan kebanggaan yang disebut-sebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah!
Bayangkan, tak kurang dari 133.000 prajurit dari tiga matra—Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara—berbaris tegap dengan disiplin yang mengagumkan. Di belakang mereka, berjejer 1.047 alat utama sistem persenjataan (alutsista), dari tank Leopard yang gagah hingga sistem rudal Starstreak yang canggih, memamerkan kekuatan pertahanan negara kita kepada dunia.
Di bawah komando langsung Presiden Prabowo Subianto sebagai Inspektur Upacara, perayaan ini bukan lagi sekadar parade militer yang kaku. Dengan tema “TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju”, acara ini berhasil bertransformasi menjadi sebuah pesta rakyat kolosal, sebuah momen di mana tentara dan warganya benar-benar menyatu dalam satu denyut kebanggaan yang sama.
Salah satu momen yang paling membuat jantung berdebar adalah saat langit di atas Monas menjadi panggung utama. Sebanyak 157 pesawat dari berbagai jenis—mulai dari jet tempur, pesawat angkut, hingga helikopter tempur—menggelar pertunjukan demo udara yang memukau. Puncaknya, tentu saja, adalah penampilan dari Jupiter Aerobatic Team. Enam pesawat KT-1B Wongbee menari-nari di angkasa, melukis langit dengan manuver-manuver presisi yang membuat jutaan pasang mata menahan napas.
Ini bukan sekadar atraksi. Ini adalah pesan. Pesan bahwa putra-putri terbaik bangsa ini memiliki kemampuan dan profesionalisme untuk menjaga setiap jengkal kedaulatan udara Nusantara. Saat deru mesin jet menggema di seluruh penjuru Jakarta, yang terasa bukanlah kebisingan, melainkan getaran kebanggaan yang merasuk hingga ke dalam dada.
Apa yang membuat HUT TNI ke-80 ini terasa begitu istimewa adalah kemampuannya untuk merangkul masyarakat. Ini bukan lagi acara eksklusif di balik gerbang markas militer. Monas dibuka seluas-luasnya untuk rakyat. Ada panggung hiburan yang diisi oleh artis-artis papan atas, bazar UMKM yang memberikan ruang bagi ekonomi lokal untuk berdenyut, hingga pembagian sembako dan doorprize fantastis berupa ratusan sepeda motor dan puluhan televisi.
Momen-momen seperti inilah yang mendefinisikan kembali hubungan antara TNI dan rakyat. TNI menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penjaga kedaulatan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Mereka adalah tentara rakyat, yang lahir dari rahim perjuangan bangsa dan mengabdi untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Sobat Beranjak, saat kita menyaksikan parade tank, mendengar deru pesawat tempur, dan melihat senyum para prajurit yang menyapa warga, ada sebuah refleksi penting untuk kita. Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari alutsistanya, tetapi dari semangat persatuan dan rasa cinta tanah air yang membara di hati setiap warganya.
Perayaan HUT ke-80 TNI ini adalah sebuah pengingat. Sebuah panggilan bagi kita, Generasi Nusantara, untuk terus mengisi kemerdekaan dan kedaulatan ini dengan karya, inovasi, dan kontribusi positif. Para prajurit telah menunjukkan dedikasi mereka untuk menjaga negara ini. Kini, giliran kita untuk menunjukkan dedikasi kita dalam membangunnya.
Mari kita ambil energi positif dari perayaan akbar ini. Mari kita Beranjak untuk menjadi generasi yang tidak hanya bangga pada kekuatan militernya, tetapi juga bangga pada kekuatan intelektual, kreativitas, dan semangat gotong royong bangsanya. Dirgahayu ke-80, Tentara Nasional Indonesia! Kau adalah kebanggaan kami.









