Kisah Mobil Antik Habibie, Ridwan Kamil, dan KPK: Harta Bersejarah yang Nyaris Ternoda Uang Korupsi

Sebuah kisah unik yang menyeret nama tiga tokoh besar—mendiang Presiden ke-3 RI BJ Habibie, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)—kini memasuki babak akhir. Kisah ini berpusat pada sebuah mobil antik yang bukan sekadar kendaraan biasa, melainkan sebuah artefak sejarah: Mercedes-Benz G300 GE Cabriolet kesayangan BJ Habibie.

Mobil langka ini sempat berpindah tangan ke Ridwan Kamil, namun takdir berkata lain. KPK turun tangan dan menyita mobil tersebut karena diduga dibeli menggunakan uang hasil gratifikasi. Kini, setelah melalui proses hukum yang panjang, mobil bersejarah itu dipastikan akan kembali ke pangkuan keluarga Habibie. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah benda bersejarah nyaris ternoda oleh praktik korupsi, dan bagaimana itikad baik pada akhirnya menang.

Cerita ini bermula dari keinginan Ridwan Kamil untuk memiliki salah satu peninggalan bersejarah dari sosok yang sangat ia kagumi, BJ Habibie. Ia pun membeli mobil Mercedes-Benz G-Class klasik tipe Cabriolet tersebut dari keluarga Habibie. Namun, yang tidak ia ketahui saat itu adalah sumber dana yang digunakan untuk pembelian tersebut.

Belakangan, KPK yang sedang mengusut kasus korupsi proyek Bandung Smart City menemukan fakta mengejutkan. Uang yang digunakan oleh pihak ketiga untuk menghadiahkan mobil tersebut kepada Ridwan Kamil ternyata berasal dari aliran dana gratifikasi. Sontak, mobil yang seharusnya menjadi koleksi kebanggaan itu pun harus disita oleh KPK sebagai barang bukti kejahatan.

Ridwan Kamil, dalam keterangannya, mengaku sama sekali tidak mengetahui asal-usul uang tersebut dan sepenuhnya menghormati proses hukum yang berjalan.

Di sinilah kisah ini mengambil tikungan yang melegakan. Mengetahui bahwa mobil bersejarah milik ayah mereka dibeli dengan uang yang tidak halal, pihak keluarga Habibie, yang diwakili oleh putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie, menunjukkan itikad baik yang luar biasa.

Ilham Habibie secara proaktif menghubungi KPK dan menyerahkan kembali seluruh uang hasil penjualan mobil tersebut, senilai Rp1,3 miliar. Ia menegaskan bahwa keluarganya tidak ingin menyimpan uang yang berasal dari sumber yang tidak benar, apalagi jika itu menyangkut nama baik dan warisan sang ayah.

Sikap ksatria dari keluarga Habibie ini mendapatkan apresiasi tinggi dari KPK. Setelah menerima kembali uang hasil korupsi tersebut, KPK membuat sebuah keputusan yang bijaksana. Mempertimbangkan nilai sejarah yang tak ternilai dari mobil tersebut dan itikad baik dari keluarga Habibie, KPK memutuskan untuk mengembalikan mobil antik itu kepada pemilik asalnya.

“Kami menilai Pak Ilham Habibie memiliki itikad baik. Selain itu, mobil ini memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa,” ujar juru bicara KPK.

Uang sebesar Rp1,3 miliar yang telah diserahkan kini resmi disita oleh negara dan akan dimasukkan ke kas negara sebagai bagian dari pengembalian aset hasil korupsi. Sementara itu, mobil Mercedes-Benz G300 GE Cabriolet yang penuh kenangan itu akan kembali terparkir di garasi keluarga Habibie, tempat di mana seharusnya ia berada.

Sobat Beranjak, kisah ini adalah sebuah pelajaran integritas yang sangat mahal harganya. Ini mengajarkan kita bahwa nilai sebuah kejujuran dan nama baik jauh lebih berharga daripada uang sebanyak apapun.

Sikap yang ditunjukkan oleh keluarga Habibie adalah teladan yang luar biasa. Mereka lebih memilih untuk “kehilangan” uang daripada membiarkan warisan dan kenangan tentang BJ Habibie ternoda oleh uang haram. Di sisi lain, ini juga menjadi pengingat bagi para pejabat publik untuk selalu waspada terhadap gratifikasi dalam bentuk apapun. Hadiah yang terlihat tulus bisa jadi memiliki udang di balik batu.

Mari kita jadikan cerita ini sebagai inspirasi. Bahwa di tengah godaan materi yang begitu besar, menjaga integritas adalah pilihan paling terhormat yang bisa kita ambil.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait