Dari Pistol ke Cangkul: Aksi Keren Polda Kalsel Ubah Lahan Tidur Jadi Lumbung Pangan

Saat kita mendengar kata “polisi”, apa yang terlintas di benakmu? Mungkin patroli, pengamanan lalu lintas, atau pengungkapan kasus kriminal. Namun, di Kalimantan Selatan, para abdi negara berseragam cokelat ini sedang mendefinisikan ulang peran mereka. Jauh dari citra garang, Polda Kalsel justru turun ke ladang, berjibaku dengan tanah dan lumpur, untuk satu misi mulia: mewujudkan ketahanan pangan.

Ini bukan sekadar program seremonial. Sejak akhir tahun 2024, mereka telah mengubah lahan tidur seluas 120 hektare di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, menjadi ladang jagung yang produktif. Aksi nyata ini adalah bagian dari gerakan nasional penanaman satu juta hektare jagung yang sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Ini adalah kisah tentang bagaimana institusi penegak hukum bisa menjadi agen perubahan yang solutif dan inspiratif.

Tantangan yang dihadapi Polda Kalsel tidaklah mudah. Lahan yang mereka garap bukanlah tanah subur yang siap tanam. Sebaliknya, itu adalah padang rumput yang sering terbakar saat kemarau dan memiliki tingkat keasaman tanah yang tinggi. Kondisi ini membuat banyak petani angkat tangan. Namun, di sinilah letak inovasinya.

Polda Kalsel tidak bekerja sendirian. Mereka menggandeng tim ahli dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan berbagai pihak swasta. Dengan kolaborasi ini, mereka menerapkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Mulai dari membangun akses jalan dan sistem pengairan, hingga melakukan penetralan pH tanah agar layak untuk ditanami. Kerja keras ini membuahkan hasil yang luar biasa. Pada panen raya kuartal ketiga tahun ini saja, mereka berhasil menyumbang 700 ton jagung! Total produksi dari awal tahun bahkan sudah melampaui 1.700 ton.

Ambisi Polda Kalsel tidak berhenti di ladang jagung. Mereka sedang membangun sebuah ekosistem ketahanan pangan yang terintegrasi. Di lahan yang sama, kini berdiri 10 green house untuk budidaya hortikultura. Di sektor perikanan, mereka membangun 26 kolam bioflok canggih untuk membudidayakan ikan gabus, ikan lokal yang punya nilai gizi dan ekonomi tinggi. Tidak ketinggalan, sektor peternakan sapi juga mulai dikembangkan.

Ini adalah sebuah visi jangka panjang yang sangat cerdas. Mereka tidak hanya memproduksi satu komoditas, tetapi menciptakan sebuah siklus agribisnis yang berkelanjutan. Hasil panennya pun tidak hanya untuk mengisi stok jagung Bulog, tetapi juga disalurkan untuk tujuan-tujuan mulia lainnya. Salah satunya adalah untuk mendukung biaya pendidikan mahasiswa kurang mampu di ULM. Sebuah siklus kebaikan yang luar biasa, bukan?

Sobat Beranjak, apa yang dilakukan oleh Polda Kalsel ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi kita semua. Pertama, ini menunjukkan bahwa peran sebuah institusi bisa jauh lebih luas dan dinamis dari yang kita bayangkan. Polisi tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak kesejahteraan.

Kedua, ini adalah contoh nyata dari kekuatan kolaborasi. Dengan menggandeng akademisi dan sektor swasta, masalah yang tadinya terlihat mustahil (menyulap lahan tandus) ternyata bisa diatasi. Ini adalah pola pikir yang harus kita, Generasi Nusantara, adopsi dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan.

Ketiga, dan yang terpenting, ini adalah pengingat bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab kita bersama. Di tengah ancaman krisis iklim dan tantangan geopolitik global, kemampuan untuk memproduksi pangan sendiri adalah kunci kedaulatan sebuah bangsa.

Apa yang ditanam oleh Polda Kalsel di Gambut lebih dari sekadar jagung. Mereka sedang menanam harapan, inovasi, dan inspirasi. Semoga langkah progresif ini bisa menjadi contoh dan direplikasi di berbagai daerah lain di seluruh Indonesia.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait