
Ada pertandingan yang lebih dari sekadar perebutan tiga poin. Ada laga yang menjadi panggung nostalgia, di mana gengsi dan sejarah pribadi para pemainnya menjadi bumbu penyedap utama. Itulah yang tersaji di Liga Pro Arab Saudi pada Sabtu (27/9/2025) dini hari, saat Al-Nassr bertandang ke markas Al-Ittihad. Laga ini bukan sekadar pertemuan dua raksasa, melainkan reuni emosional dua predator paling mematikan di generasi mereka: Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema.
Dua legenda Real Madrid ini, yang pernah bahu-membahu menaklukkan Eropa, kini harus berhadapan sebagai rival. Momen ini menjadi magnet yang menyedot perhatian penikmat sepak bola di seluruh dunia. Hasil akhirnya pun seolah menjadi penegas era baru: Al-Nassr yang dipimpin Cristiano Ronaldo, dengan bantuan Sadio Mane, berhasil membungkam Al-Ittihad yang dikapteni Karim Benzema dengan skor meyakinkan 2-0.
Sebelum peluit kick-off dibunyikan, pemandangan di tengah lapangan menghangatkan hati jutaan penggemar, terutama para Madridista. Ronaldo dan Benzema, dua ikon yang pernah membentuk duet maut di Santiago Bernabeu, terlihat berbagi pelukan hangat dan percakapan ringan. Senyum dan tawa di antara keduanya menjadi saksi bisu dari ikatan persahabatan dan rasa hormat yang telah terjalin selama hampir satu dekade. Momen itu adalah pengingat indah dari era keemasan mereka, di mana umpan-umpan Benzema seringkali menjadi santapan empuk bagi gol-gol Ronaldo.
Namun, begitu pertandingan dimulai, persahabatan itu seolah diletakkan di bangku cadangan. Di atas lapangan hijau, yang ada hanyalah rivalitas dan determinasi untuk menang. Al-Nassr, yang datang sebagai tim tamu, tampil lebih terorganisir dan tajam sejak menit pertama. Mereka tahu betul bahwa kemenangan di laga ini tidak hanya berarti puncak klasemen, tetapi juga sebuah pernyataan supremasi.
Di tengah sorotan yang tertuju pada duel Ronaldo vs Benzema, justru bintang lain yang membuka keunggulan. Adalah Sadio Mane, mantan penyerang Liverpool, yang berhasil memecah kebuntuan. Dengan kecepatan dan instingnya yang khas, Mane sukses mengoyak jala gawang Al-Ittihad, membawa Al-Nassr unggul dan membungkam publik tuan rumah.
Tertinggal satu gol, Al-Ittihad yang dimotori Benzema berusaha keras untuk membalas. Beberapa kali sang kapten mencoba membuka ruang dan menciptakan peluang, namun pertahanan solid Al-Nassr terbukti terlalu sulit untuk ditembus. Di sisi lain, Cristiano Ronaldo terus menjadi ancaman nyata. Setiap kali ia memegang bola, ada aura bahaya yang langsung terasa di lini pertahanan Al-Ittihad.
Puncaknya, Ronaldo pun ikut mencatatkan namanya di papan skor. Melalui sebuah penyelesaian akhir yang klinis, CR7 berhasil menggandakan keunggulan timnya. Gol ini seolah menjadi segel kemenangan dan penegas bahwa di usianya yang tak lagi muda, insting membunuhnya sama sekali belum tumpul. Sementara Benzema harus pulang dengan tangan hampa, Ronaldo menutup malam reuni itu dengan senyuman kemenangan.
Kemenangan ini membawa Al-Nassr memantapkan posisi mereka di puncak klasemen sementara Liga Pro Arab Saudi, memberikan kekalahan pertama bagi Al-Ittihad musim ini. Namun, laga ini akan dikenang lebih dari sekadar hasil akhir. Ia adalah sebuah perayaan atas karier dua legenda hidup, sebuah babak baru dalam rivalitas mereka yang kini berpindah ke panggung Timur Tengah.
Bagi kita, Generasi Nusantara, duel ini adalah pelajaran tentang profesionalisme. Tentang bagaimana persahabatan di luar lapangan harus dikesampingkan demi lambang di dada saat bertanding. Ini juga menjadi bukti bahwa Liga Arab Saudi kini telah bertransformasi menjadi liga yang sangat kompetitif dan bertabur bintang, layak untuk diikuti. Malam itu, nostalgia memang indah, tetapi kemenangan terasa jauh lebih manis, dan Cristiano Ronaldo-lah yang merasakannya.









