
Sebuah musibah memilukan menimpa seorang petani di pelosok Kabupaten Ogan Ilir. Hanya dalam sekejap mata, tempat tinggal yang menjadi satu-satunya harta berharganya hangus tak bersisa. Peristiwa tragis ini terjadi pada Jumat (26/9/2025) malam, sekitar pukul 19.30, menimpa Amancik (57), seorang warga Desa Sekonjing, Kecamatan Tanjung Raja.
Api yang diduga berasal dari korsleting listrik melahap habis rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu itu. Kisah ini menjadi pengingat pahit tentang betapa pentingnya kewaspadaan terhadap instalasi listrik di rumah, dan bagaimana nasib bisa berubah drastis hanya dalam hitungan menit, terutama bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Malam itu, Amancik meninggalkan rumahnya seorang diri untuk pergi ke warung terdekat. Sebuah aktivitas rutin yang tak pernah ia sangka akan menjadi momen terakhirnya melihat rumahnya berdiri kokoh. Saat ia kembali beberapa waktu kemudian, pemandangan yang menyambutnya adalah kobaran api yang sudah membumbung tinggi, melalap seluruh bagian rumahnya.
Amancik hanya bisa terpaku lemas, menyaksikan tempatnya berteduh selama ini berubah menjadi arang. Teriakan minta tolongnya tak banyak membantu. Lokasi rumahnya yang berada cukup jauh dari pemukiman warga lain membuat bantuan datang terlambat. Api yang begitu cepat merambat di material kayu membuat rumah tersebut mustahil untuk diselamatkan. Warga sekitar yang akhirnya berdatangan hanya bisa membantu memadamkan sisa-sia api agar tidak menjalar lebih jauh.
Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun seluruh harta benda Amancik ludes terbakar. Kerugian material ditaksir mencapai sekitar Rp20 juta, sebuah angka yang sangat besar bagi seorang petani harian yang hidup pas-pasan.
Kini, Amancik harus menghadapi kenyataan pahit. Ia kehilangan tempat tinggal dan terpaksa harus mengungsi di rumah kerabatnya. Kondisinya yang tergolong warga kurang mampu membuatnya semakin sulit untuk bisa membangun kembali rumahnya seorang diri.
Pihak kepolisian yang datang ke lokasi kejadian tidak hanya melakukan olah TKP, tetapi juga menunjukkan empati. Melihat kondisi Amancik yang begitu memprihatinkan, pihak berwenang berencana untuk berkoordinasi dan mengajukan permohonan bantuan rumah layak huni kepada Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir.
Sobat Beranjak, kisah Amancik adalah potret dari realitas kehidupan saudara-saudara kita di pedesaan yang seringkali luput dari perhatian. Ini adalah panggilan nurani bagi kita semua. Bagi yang memiliki kelebihan, ini adalah kesempatan untuk mengulurkan tangan. Bagi pihak berwenang, ini adalah pengingat akan pentingnya program bantuan sosial yang tepat sasaran dan responsif terhadap bencana.
Mari kita doakan agar Pak Amancik diberikan ketabahan dan segera mendapatkan bantuan yang layak. Semoga dari puing-puing yang tersisa, akan ada harapan baru yang bisa dibangun kembali, tidak hanya olehnya, tetapi juga dengan bantuan dan kepedulian dari kita semua.









