
Di dunia yang serba terhubung lewat media sosial, kita terbiasa melihat sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Unggahan yang penuh senyum, liburan yang mewah, dan potret keluarga yang harmonis seringkali menjadi etalase yang kita saksikan. Namun, di balik fasad yang tampak sempurna itu, bisa jadi tersimpan kerapuhan dan perjuangan batin yang tak terkatakan.
Sebuah pengakuan yang sangat personal dan berani datang dari salah satu figur publik ternama tanah air, Olla Ramlan. Di balik citranya sebagai seorang artis, model, dan ibu yang tegar, Olla mengungkapkan sebuah sisi gelap dari hidupnya yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia mengaku pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, di mana ia sampai memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tidak hanya sekali, tetapi sebanyak tiga kali.
Pengakuan ini disampaikan Olla dengan penuh keterbukaan, menjadi pengingat yang kuat bahwa apa yang kita lihat di permukaan seringkali bukanlah gambaran utuh dari sebuah realitas. Ia menyadari bahwa publik dan bahkan orang-orang terdekatnya hanya melihat kebahagiaan yang ia proyeksikan. “Orang-orang tidak tahu seperti apa hidup yang aku jalani,” ungkapnya.
Baginya, media sosial adalah panggung di mana ia memilih untuk hanya menampilkan kebahagiaan. Namun di belakang panggung, hanya ia dan Tuhan yang tahu badai seperti apa yang sedang ia hadapi. Perjuangan batin itu begitu berat hingga anak-anak yang menjadi sumber kekuatannya pun tidak pernah mengetahui betapa rapuhnya sang ibu saat itu. Pengakuan ini adalah sebuah kejujuran yang menyakitkan, tetapi juga sangat penting untuk disuarakan.
Kisah Olla Ramlan bukanlah cerita tentang kelemahan, melainkan tentang kekuatan luar biasa untuk bertahan. Keberaniannya untuk berbicara tentang episode tergelap dalam hidupnya adalah sebuah langkah penting dalam upaya kita bersama untuk memecah stigma seputar kesehatan mental. Di masyarakat kita, isu-isu seperti depresi dan pemikiran bunuh diri masih sering dianggap tabu atau aib yang harus disembunyikan.
Pengakuan dari seorang figur publik seperti Olla memiliki kekuatan untuk mengubah narasi tersebut. Ia menunjukkan kepada jutaan pengikutnya bahwa merasa hancur dan putus asa adalah pengalaman manusiawi yang bisa menimpa siapa saja, tidak peduli seberapa sukses atau bahagianya mereka terlihat dari luar. Yang terpenting bukanlah bagaimana kita jatuh, tetapi bagaimana kita menemukan kekuatan untuk bangkit kembali.
Sobat Beranjak, jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang melewati masa-masa sulit dan merasakan beban yang begitu berat, kisah Olla ini adalah pesan bahwa kamu tidak sendirian. Perasaan putus asa itu nyata, tetapi bantuan juga sama nyatanya.
Mengakui bahwa kita butuh bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah pertama yang paling berani menuju pemulihan. Berbicaralah dengan orang yang kamu percaya, entah itu keluarga, sahabat, atau pasangan. Jika beban itu terasa terlalu berat untuk ditanggung, jangan pernah ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikolog, psikiater, dan konselor adalah para ahli yang terlatih untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan alat yang kamu butuhkan untuk melewati badai.
Mari kita jadikan kisah Olla Ramlan sebagai momentum untuk menjadi komunitas yang lebih peduli dan empatik. Mulailah lebih sering bertanya “Apa kabarmu?” dengan tulus kepada orang-orang di sekitar kita. Dengarkan jawaban mereka dengan saksama. Terkadang, sebuah percakapan sederhana bisa menjadi pelampung penyelamat bagi seseorang yang sedang berjuang dalam diam. Ingat, tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja, dan selalu ada jalan menuju cahaya, seberapa pun gelapnya malam yang sedang kamu hadapi.









