
Dunia diplomasi internasional kembali diuji oleh gaya kepemimpinan yang transaksional. Kali ini, panggungnya adalah hubungan antara dua negara sekutu lama, Amerika Serikat dan Spanyol. Sebuah keputusan bisnis pertahanan yang diambil oleh Spanyol ternyata berbuntut panjang, memicu reaksi emosional dari Presiden AS Donald Trump dan membuka potensi perang dagang baru yang merugikan kedua belah pihak.
Kisah ini adalah pelajaran berharga bagi kita di Indonesia tentang bagaimana kepentingan ekonomi dan politik dalam negeri bisa berbenturan dengan komitmen dan aliansi internasional. Ini adalah contoh nyata bahwa dalam politik global, persahabatan antarnegara bisa dengan cepat berubah menjadi ketegangan saat uang dan kepentingan nasional dipertaruhkan.
Pangkal masalah dari ketegangan ini adalah keputusan pemerintah Spanyol untuk menunda rencana pembelian jet tempur siluman F-35 buatan Amerika Serikat. Keputusan ini bukanlah tanpa alasan. Spanyol, sebagai anggota aliansi pertahanan NATO, memiliki kewajiban untuk mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar 2% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) mereka.
Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, pemerintah Spanyol tampaknya harus membuat pilihan sulit. Memenuhi target anggaran NATO dan pada saat yang sama mengakuisisi armada jet tempur super canggih yang harganya selangit terbukti menjadi beban yang terlalu berat bagi kas negara. Akibatnya, Madrid memutuskan untuk menekan tombol jeda pada proyek ambisius tersebut, memprioritaskan kesehatan fiskal dan alokasi anggaran untuk kebutuhan domestik lainnya. Ini adalah langkah pragmatis yang seringkali harus diambil oleh sebuah negara.
Namun, di Washington, keputusan pragmatis Spanyol ini diterima dengan cara yang sama sekali berbeda. Presiden Donald Trump, yang dikenal dengan pendekatannya yang mengutamakan “America First” dan seringkali melihat hubungan internasional dari kacamata bisnis, merespons kabar ini dengan kemarahan. Baginya, penundaan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan sebuah pembatalan kesepakatan bisnis raksasa yang merugikan industri pertahanan Amerika.
Reaksinya pun bisa ditebak: ancaman. Trump secara terbuka menyatakan kekecewaannya dan langsung mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap barang-barang impor dari Spanyol. Ini adalah jurus andalan Trump dalam bernegosiasi. Ketika diplomasi tradisional tidak berjalan sesuai keinginannya, ia tidak ragu untuk menggunakan kekuatan ekonomi Amerika sebagai senjata untuk menekan negara lain, bahkan jika negara itu adalah sekutunya sendiri.
Sobat Beranjak, insiden antara AS dan Spanyol ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, ia menunjukkan pergeseran lanskap geopolitik di mana hubungan aliansi tradisional tidak lagi sakral. Kepentingan ekonomi domestik kini seringkali menjadi prioritas utama, bahkan jika harus mengorbankan hubungan baik dengan negara sahabat.
Kedua, bagi negara seperti Indonesia yang juga merupakan pemain penting di panggung global, ini adalah pengingat untuk selalu cerdas dalam menjalin kemitraan. Ketergantungan yang berlebihan pada satu kekuatan besar bisa menjadi bumerang. Diversifikasi mitra strategis, baik dalam bidang ekonomi maupun pertahanan, adalah kunci untuk menjaga kedaulatan dan fleksibilitas kebijakan luar negeri kita.
Sebagai Generasi Nusantara yang akan mewarisi kepemimpinan bangsa, kita perlu memahami dinamika ini. Dunia tidak lagi hitam-putih. Kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari kekuatan militernya, tetapi juga dari ketahanan ekonominya dan kelihaiannya dalam berdiplomasi. Kisah jet tempur Spanyol yang berujung ancaman tarif ini adalah bukti nyata bahwa di era sekarang, kalkulasi ekonomi seringkali menjadi raja di atas papan catur global.









