
Ada aura optimisme yang kembali menyelimuti Old Trafford. Setelah melewati periode yang penuh turbulensi, Manchester United seolah menemukan kembali sentuhan magisnya. Tim asuhan Erik ten Hag ini baru saja mencatatkan sebuah prestasi impresif: meraih lima kemenangan beruntun di semua kompetisi. Terakhir kali mereka membungkam Brentford dengan skor tipis 1-0 pada Jumat (26/9/2025) dini hari.
Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin. Ia adalah sebuah penegasan. Sebuah sinyal kuat bahwa Setan Merah mulai menemukan konsistensi dan karakter yang selama ini dirindukan oleh para penggemarnya. Namun, pencapaian ini juga memantik sebuah pertanyaan nostalgia: kapan terakhir kali MU berhasil menorehkan catatan serupa? Jawabannya akan membawa kita kembali ke sebuah era yang berbeda, di bawah arahan manajer yang berbeda pula.
Untuk menemukan kapan terakhir kali Manchester United meraih lima kemenangan beruntun, kita perlu memutar waktu kembali ke Februari 2024. Ya, lebih dari satu setengah tahun yang lalu. Saat itu, tim yang juga masih di bawah komando Erik ten Hag berhasil melalui periode positif tersebut. Catatan ini menunjukkan betapa sulitnya menjaga momentum dan konsistensi di level tertinggi sepak bola Inggris.
Rentetan kemenangan yang baru saja diraih musim ini terasa lebih solid dan penuh perjuangan. Dimulai dengan kemenangan krusial melawan rival abadi Liverpool, dilanjutkan dengan menaklukkan Southampton, Leicester City, Arsenal, dan terakhir Brentford. Kemenangan-kemenangan ini tidak didapat dengan mudah; beberapa di antaranya diraih dengan skor tipis yang menunjukkan mentalitas baja dan pertahanan yang mulai rapat. Ini adalah angin segar bagi para suporter yang sempat dibuat frustrasi dengan penampilan tim di awal musim.
Kebangkitan ini tentu tidak lepas dari tangan dingin Erik ten Hag. Manajer asal Belanda itu perlahan tapi pasti mulai menanamkan filosofi dan disiplinnya ke dalam skuad. Keputusannya untuk mencadangkan beberapa nama besar dan memberikan kepercayaan pada pemain yang menunjukkan determinasi di lapangan terbukti jitu. Ia berhasil membangun kembali semangat juang di ruang ganti.
Selain itu, kontribusi para rekrutan baru juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Lisandro Martínez di lini belakang tampil tanpa kompromi dan langsung menjadi idola baru. Christian Eriksen di lini tengah memberikan ketenangan dan visi bermain yang selama ini hilang, sementara Antony di lini serang mulai menunjukkan mengapa ia dibeli dengan harga selangit. Kombinasi antara arahan taktis yang jelas dari manajer dan kualitas individu pemain baru menjadi fondasi dari kebangkitan ini.
Lima kemenangan beruntun ini lebih dari sekadar statistik. Bagi para pendukung Manchester United, ini adalah suntikan harapan. Setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu, ada perasaan bahwa tim ini akhirnya bergerak ke arah yang benar. Para pemain terlihat lebih lapar, lebih solid sebagai sebuah unit, dan bermain dengan kebanggaan mengenakan seragam merah kebesaran.
Tentu, perjalanan masih sangat panjang. Liga Inggris adalah maraton, bukan sprint. Tantangan-tantangan berat sudah menanti di depan mata. Namun, setidaknya untuk saat ini, para penggemar Setan Merah punya alasan kuat untuk kembali tersenyum. Mereka melihat secercah cahaya di ujung terowongan, sebuah tanda bahwa era baru yang menjanjikan mungkin benar-benar telah dimulai. Pertanyaannya sekarang, mampukah mereka menjaga momentum ini? Waktu yang akan menjawabnya.









