Bukan Soal Uang, Tapi Prinsip: Makna di Balik Tuntutan Nafkah 100 Perak dan Tas 3 Miliar Tasya Farasya

Sumber Foto/Video :KapanLagi

Di tengah hiruk pikuk berita selebriti yang seringkali dipenuhi drama, sebuah pemandangan penuh simbolisme hadir dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Beauty influencer ternama, Tasya Farasya, memulai sidang perdana perceraiannya dengan Ahmad Assegaf. Namun, bukan prosesnya yang menjadi sorotan utama, melainkan dua hal kontras yang ia bawa ke ruang sidang: sebuah tuntutan nafkah senilai 100 perak dan sebuah tas seharga miliaran rupiah.

Sobat Beranjak, pada pandangan pertama, kombinasi ini mungkin terlihat ironis atau bahkan membingungkan. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada sebuah pesan kuat yang sedang disampaikan. Ini bukan lagi sekadar berita perceraian biasa; ini adalah sebuah narasi modern tentang kemandirian, harga diri, dan penegasan prinsip seorang perempuan di tengah badai masalah pribadi.

Tasya Farasya, seorang figur yang membangun imperium bisnisnya sendiri, menuntut nafkah anak dari mantan suaminya dengan nominal yang bahkan tak cukup untuk membeli sebutir permen. Di sisi lain, ia menenteng tas Hermes B30 Himalaya Matte Niloticus Crocodile yang ditaksir bernilai fantastis, mencapai Rp 3,3 miliar. Momen ini bukan tentang pamer kekayaan, melainkan sebuah deklarasi tanpa kata.

Makna Simbolis di Balik 100 Perak

Mari kita bedah makna di balik tuntutan yang tidak biasa ini. Kuasa hukum Tasya Farasya, M. Fattah Riphat dan Sangun Ragahdo, menjelaskan bahwa angka 100 perak bukanlah cerminan dari kebutuhan finansial. Sebaliknya, ia adalah sebuah ujian simbolis. Ujian terhadap itikad baik, tanggung jawab, dan komitmen seorang ayah terhadap anak-anaknya, bahkan ketika ikatan pernikahan telah usai.

Tuntutan ini seolah berkata, “Ini bukan tentang berapa banyak uang yang bisa kamu berikan, tetapi tentang kesediaanmu untuk bertanggung jawab.” Ini adalah sebuah langkah cerdas yang membalikkan narasi umum tentang perceraian yang seringkali berpusat pada perebutan harta. Tasya menggeser fokusnya ke ranah moral dan prinsip. Lebih jauh, langkah ini juga menjadi cerminan dari pernyataan tersirat bahwa selama ini, ia merasa tidak pernah menerima nafkah yang layak dalam pernikahannya.

Bagi kita, Generasi Nusantara, pesan ini sangat relevan. Di era di mana semakin banyak perempuan yang mandiri secara finansial, konsep nafkah tidak lagi melulu soal bertahan hidup. Ia berevolusi menjadi sebuah pengakuan akan peran dan tanggung jawab bersama dalam membesarkan anak. Apa yang dilakukan Tasya adalah sebuah penegasan bahwa kemandirian finansial seorang perempuan tidak serta-merta menghapus kewajiban seorang laki-laki sebagai ayah.

Tas 3 Miliar Sebagai Simbol Kemandirian

Jika tuntutan 100 perak adalah simbol penagihan tanggung jawab, maka tas Hermes seharga 3,3 miliar rupiah adalah simbol kemandirian mutlak. Kehadiran tas tersebut bukanlah sebuah kebetulan. Ia menjadi penyeimbang visual yang sempurna bagi tuntutan simbolisnya. Tas itu adalah bukti nyata dari kerja keras, kesuksesan, dan kekuatan ekonomi yang telah ia bangun sendiri.

Dengan menenteng tas tersebut, Tasya seolah menegaskan posisinya: “Saya tidak membutuhkan uangmu untuk hidup mewah, karena saya bisa menciptakannya sendiri. Yang saya tuntut adalah sesuatu yang tak ternilai harganya: tanggung jawabmu.”

Kontras yang tajam antara dua nilai ini menghancurkan stereotip perempuan yang menuntut nafkah besar karena ketergantungan. Tasya justru menunjukkan bahwa perempuan bisa berada di posisi yang sangat kuat, menuntut hak anak-anaknya bukan dari posisi lemah, melainkan dari posisi yang setara dan berdaya. Ini adalah sebuah gambaran progresif yang menginspirasi, menunjukkan evolusi peran perempuan dalam masyarakat modern.

Akar Masalah: Hilangnya Kepercayaan

Di balik semua simbolisme ini, tentu ada akar permasalahan yang serius. Alasan utama perceraian ini, seperti yang diungkapkan oleh pihak Tasya, adalah hilangnya kepercayaan akibat dugaan penggelapan dana perusahaan oleh Ahmad Assegaf, yang ironisnya menjabat sebagai Chief Financial Officer (CFO). Masalah ini menunjukkan bahwa keretakan dalam rumah tangga mereka tidak hanya bersifat personal, tetapi juga profesional.

Momen ini menjadi sebuah studi kasus yang kompleks tentang hubungan, bisnis, dan kepercayaan. Bahkan setelan kuning pastel yang dikenakan Tasya, yang mengingatkan publik pada warna kebaya akad nikahnya di tahun 2018, seolah menambah lapisan ironi dan kepedihan dalam perjalanan yang harus ia lalui.

Pada akhirnya, apa yang dipertontonkan Tasya Farasya di pengadilan adalah sebuah masterclass dalam komunikasi simbolis. Ia berhasil mengubah sidang perceraian yang berpotensi menjadi ajang saling serang yang melelahkan, menjadi sebuah panggung untuk menyampaikan pesan yang kuat tentang kemandirian perempuan, prinsip, dan tanggung jawab. Sebuah kisah yang layak kita simak, bukan sebagai gosip, melainkan sebagai sebuah cerminan dari dinamika hubungan modern yang terus “Beranjak” dan berevolusi.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait