
Dalam panggung sepak bola dunia yang gemerlap, perdebatan tentang siapa pemain terbaik di planet ini seakan tak pernah usai. Namun, di tengah dominasi nama-nama yang itu-itu saja, sebuah suara lantang datang dari tanah para Firaun, menyuarakan sebuah seruan yang terasa begitu relevan: saatnya sepak bola berlaku adil.
Sobat Beranjak, suara itu datang dari Hossam Hassan, pelatih tim nasional Mesir sekaligus seorang legenda sepak bola di negaranya. Dengan penuh keyakinan, Hassan menegaskan bahwa bintang utamanya, Mohamed Salah, adalah sosok yang paling pantas untuk mengangkat trofi Ballon d’Or 2025. Ini bukan sekadar dukungan patriotik; ini adalah sebuah argumen kuat yang didasari oleh performa, konsistensi, dan yang terpenting, dampak inspiratif seorang pemain.
“Sepak bola harus adil,” ujar Hassan dalam sebuah pernyataan yang menggugah. Kalimat singkat itu membawa pesan mendalam, seolah mengkritik parameter penilaian penghargaan individu yang terkadang lebih condong pada popularitas atau trofi tim tertentu, dan mengesampingkan kontribusi fenomenal seorang pemain. Bagi Hassan, Salah telah membuktikan segalanya di atas lapangan, dan kini saatnya dunia mengakuinya.
Ini adalah narasi yang menarik bagi kita, Generasi Nusantara. Kisah Salah adalah cerminan dari kerja keras, determinasi, dan pembuktian diri di panggung tertinggi. Seruan dari pelatihnya menjadi pengingat bahwa pengakuan dan apresiasi adalah hal yang patut diperjuangkan.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Nyawa Permainan
Dukungan Hossam Hassan bukanlah tanpa dasar. Mari kita lihat rekam jejak Salah di musim sebelumnya. Penyerang andalan Liverpool itu berhasil menggelontorkan total 34 gol di semua kompetisi. Angka ini bukanlah statistik kosong. Setiap golnya adalah momen krusial yang membawa Liverpool terbang tinggi, mengamankan gelar juara Liga Primer Inggris yang kompetitif dan trofi Carabao Cup.
Di era di mana sepak bola begitu mengandalkan data, kontribusi Salah adalah bukti sahih kehebatannya. Ia bukan hanya seorang pencetak gol ulung, tetapi juga nyawa dari serangan Liverpool. Kemampuannya melewati lawan, kecepatan eksplosifnya, dan visi bermainnya secara konsisten telah menjadi pembeda dalam pertandingan-pertandingan paling krusial.
Namun, Hassan melihat lebih dari sekadar angka. Ia menyoroti sisi lain dari sang bintang yang membuatnya begitu istimewa. “Dia adalah teladan bagi semua pencari kesuksesan,” kata Hassan. Pernyataan ini mengangkat diskusi tentang Salah ke level yang lebih tinggi. Ia tidak hanya dinilai dari apa yang ia lakukan selama 90 menit di lapangan, tetapi juga dari karakter dan pengaruh yang ia bawa di luar lapangan.
Inspirasi yang Melampaui Lapangan Hijau
Bagi jutaan anak muda di Mesir, Afrika, dan seluruh dunia, Mohamed Salah adalah simbol harapan. Ia adalah bukti bahwa talenta dari sudut dunia mana pun bisa bersinar di panggung paling elite jika diiringi dengan kerja keras tanpa kompromi. Kisah perjalanannya, dari desa kecil di Nagrig hingga menjadi ikon global di Anfield, adalah sebuah narasi inspiratif yang melampaui batas-batas olahraga.
Inilah yang membuat seruan untuk Ballon d’Or menjadi begitu relevan dengan nilai-nilai yang kita pegang. Ini tentang menghargai perjalanan, dedikasi, dan sportivitas. Salah dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, seorang muslim yang taat, dan filantropis yang tak ragu membantu kampung halamannya. Ia adalah paket komplet seorang atlet modern: berprestasi di puncak, namun tetap membumi.
Sambil menanti keputusan Ballon d’Or, perjalanan Salah terus berlanjut. Liverpool akan segera menghadapi tantangan dari Southampton pada 23 September, sementara Mesir akan memulai perjuangannya di kualifikasi Piala Dunia melawan Djibouti pada 6 Oktober. Terlepas dari apakah namanya akan terukir di trofi bola emas itu atau tidak, Mohamed Salah telah memenangkan sesuatu yang lebih berharga: tempat di hati para penggemar dan status sebagai panutan sejati. Dan bagi Generasi Nusantara, itulah kemenangan yang sesungguhnya.









