Bukan Cuma Ampera, Palembang Kini Punya Wajah Baru: Kampung Kreatif, Destinasi Wajib Anak Muda

Sobat Beranjak, saat mendengar kata Palembang, apa yang pertama kali terlintas di benakmu? Jembatan Ampera yang megah? Atau semangkuk pempek dengan cuko yang menggugah selera? Ya, semua itu adalah ikon yang melegenda. Namun, kini Palembang sedang “Beranjak”, menampilkan wajah baru yang lebih otentik, berwarna, dan kaya akan kreativitas.

Lupakan sejenak destinasi-destinasi mainstream. Pemerintah Kota Palembang kini tengah menggarap sebuah konsep brilian yang akan mengubah cara kita memandang pariwisata kota: Program “Kampung Kreatif”. Ini bukanlah proyek pembangunan destinasi artifisial, melainkan sebuah gerakan untuk mengangkat dan memoles potensi-potensi tersembunyi yang selama ini hidup dan berdenyut di tengah pemukiman warga.

Program ini adalah jawaban bagi kita, Generasi Nusantara, yang seringkali mendambakan pengalaman wisata yang lebih dari sekadar foto-foto Instagrammable. Kita mencari cerita, interaksi, dan keaslian. Dan Kampung Kreatif menawarkan semua itu. Pemerintah Kota Palembang secara aktif membina dan memfasilitasi kampung-kampung yang memiliki DNA kreativitas, mengubahnya menjadi etalase hidup bagi kearifan lokal.

Ini adalah langkah progresif yang tidak hanya bertujuan mendatangkan 2,5 juta wisatawan pada tahun 2025, tetapi juga—dan ini yang lebih penting—membangun fondasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Menyelami Jantung Kreativitas Palembang

Di mana saja kita bisa menemukan denyut nadi kreativitas ini? Beberapa kampung telah lebih dulu bersinar dan menjadi pionir. Mari kita jelajahi.

Pertama, ada kawasan Tuan Kentang di 16 Ulu, yang telah lama dikenal sebagai surganya kain jumputan. Melalui program Kampung Kreatif, kawasan ini tidak lagi hanya menjadi tempat produksi. Ia bertransformasi menjadi sebuah destinasi pengalaman. Bayangkan, kamu tidak hanya bisa membeli kain jumputan yang indah, tetapi juga melihat langsung proses pembuatannya yang rumit, berbincang dengan para pengrajin, bahkan mencoba sendiri membatik di bawah bimbingan ahlinya. Ini adalah pengalaman otentik yang takkan kamu dapatkan di mal atau toko oleh-oleh biasa.

Bergeser sedikit, kita akan menemukan kawasan Suro Tangga Buntung, rumah bagi para maestro tenun songket. Di sini, gemerisik benang emas yang ditenun menjadi kain mewah adalah musik sehari-hari. Kampung ini menjadi galeri hidup di mana setiap sudut rumah adalah workshop, dan setiap warga adalah seniman. Program ini membantu mereka dalam hal promosi dan pengemasan, sehingga karya-karya adiluhung mereka bisa lebih dikenal luas, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dan tentu saja, Palembang tidak bisa lepas dari kulinernya. Kawasan 26 Ilir, yang selama ini dikenal sebagai pusat oleh-oleh pempek dan kerupuk, kini ditata menjadi sebuah destinasi kuliner yang lebih terintegrasi. Ini bukan lagi sekadar tempat berbelanja, tetapi sebuah “dapur raksasa” di mana pengunjung bisa merasakan atmosfer otentik pembuatan pempek, dari proses menggiling ikan hingga merebus dan menyajikannya.

Lebih dari Wisata, Ini Tentang Pemberdayaan

Inisiatif Kampung Kreatif adalah cerminan sempurna dari nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Beranjak: Inspiratif, Inklusif, dan Kolaboratif.

Inspiratif, karena program ini mengangkat kisah-kisah para pengrajin dan pelaku usaha lokal menjadi sebuah narasi besar yang membanggakan. Ini membuktikan bahwa kreativitas dan tradisi bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang kuat. Kisah mereka adalah inspirasi bagi anak muda lain untuk tidak ragu memulai usaha berbasis kearifan lokal.

Inklusif, karena program ini melibatkan masyarakat secara langsung. Mereka bukan objek, melainkan subjek dari pembangunan pariwisata. Manfaat ekonomi dari setiap kunjungan wisatawan langsung dirasakan oleh warga setempat, menciptakan pemerataan kesejahteraan dan rasa memiliki yang tinggi.

Kolaboratif, karena keberhasilan program ini adalah buah kerja sama antara pemerintah sebagai fasilitator, warga sebagai kreator, dan kita sebagai wisatawan yang mengapresiasi. Ini adalah sebuah ekosistem pariwisata yang sehat dan berkelanjutan.

Bagi kita, anak muda Palembang, Kampung Kreatif adalah panggung baru untuk berekspresi. Kita bisa menjadi pemandu wisata, content creator yang mempromosikan kampung-kampung ini ke dunia, atau bahkan menjadi bagian dari regenerasi pengrajin itu sendiri. Ini adalah kesempatan untuk terlibat, belajar, dan berkarya, membangun kota kita dari akarnya.

Jadi, saat temanmu dari luar kota datang berkunjung, jangan hanya ajak mereka ke Ampera. Ajak mereka “tersesat” di lorong-lorong kreatif Tuan Kentang, mendengarkan simfoni tenun di Suro Tangga Buntung, dan mencicipi pempek langsung dari dapurnya di 26 Ilir. Karena wajah baru Palembang ada di sana: otentik, berdaya, dan penuh cerita.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait